Pakar Siber: Jika Ada Pengguna dari Uni Eropa, Tokopedia Bisa Dituntut Rp332 Miliar - Kenkenews.com
BREAKING NEWS :

Pakar Siber: Jika Ada Pengguna dari Uni Eropa, Tokopedia Bisa Dituntut Rp332 Miliar

Kamu Suka Ini

Ada Banyak Promo


Kenkenews.com - Tokopedia harus bertanggung jawab atas dugaan kebocoran data para pengguna aplikasi belanja daring itu. Akan tetapi, yang jadi persoalan adalah, regulasi dan undang-undang mana yang bisa dipakai untuk meminta pertanggungjawaban Tokopedia. Pasalnya, RUU Perlindungan Data Pribadi (PDP) sampai kini belum tuntas di tangan pemerintah dan DPR.

“Coba kita lihat data yang diretas, praktis hanya password yang dienkripsi, padahal data lainnya juga sangat krusial. Ada user ID, email, nama lengkap, tanggal lahir, jenis kelamin dan nomor seluler,” ungkap pakar keamanan siber, Pratama Persadha, dalam keterangan tertulisnya, Senin (4/5).

Chairman Lembaga Riset Siber Indonesia CISSReC (Communication & Information System Security Research Center) itu menjelaskan, selain pengamanan yang tidak menyeluruh, Tokopedia juga tidak langsung memberikan notifikasi pada pengguna terdampak dan juga langkah preventif. Hal ini sebenarnya bisa saja mudah dilakukan, dengan notifikasi lewat aplikasi, email, SMS dan WhatsApp.

“Tokopedia juga harus menghadapi ancaman tuntutan bila ada user Tokopedia warga Uni Eropa yang merasa dirugikan. Warga Uni Eropa dilindungi General Data Protection Regulation (GDPR), semacam UU yang melindungi data warganya di seluruh dunia, ancamannya tidak main-main, bisa sampai 20 juta euro (setara Rp332 miliar),” katanya.

Pratama menuturkan, dalam GDPR, perlindungan data menjadi hal yang sangat diprioritaskan. Dalam kasus Tokopedia, enkripsi hanya pada password saja sangat tidak cukup, karena GDPR mewajibkan perlindungan pada seluruh data.

“Dalam GDPR nanti akan dicek, apakah data sensitif dienkripsi atau tidak. Apakah platform memiliki SDM dan vendor teknologi yang cakap atau tidak, apakah update security patch dilakukan berkala atau tidak, serta bagaimana model pengamanan yang dijalankan setiap harinya,” ujarnya.

Ia menuturkan, peristiwa ini memang membuat ketakutan sebagian warga untuk berbelanja di marketplace, terutama yang menggunakan kartu kredit dan debit, juga dompet digital. Mereka khawatir datanya ikut diretas dan diperjualbelikan.

“Transaksi bisa dilakukan seperti biasa, namun memang minimal ganti password dan buat pasword setiap platform berbeda. Karena bila password email dan tokopedia sama, kemungkinan terburuk email kita diambil alih dan semua akun-akun kita lumpuh, baik medsos maupun marketplace,” katanya. []
Powered by Blogger.