BREAKING NEWS :

Pemerintah Dinilai Jerumuskan Rakyat ke Jurang Kematian


Kenkenews.com - Pendiri Indef, Didik J Rachbini melihat wacana pelonggaran pembatasan sosial berskala besar (PSBB) berdampak pada ketidakdisiplinan publik. Masyarakat semakin sesuka hati menyikapi pandemi karena komunikasi pemerintah yang tak apik.

“Kacau dari pejabat pemerintah, mulai dari awal penghindaran dan menolak terhadap Covid,” ujar Didik Rabu (20/5).

Dia memaparkan, salah satu contah kacaunya komunikasi publik pemerintah di antaranya kalimat “makan nasi kucing” oleh Menteri Perhubungan, “minum saja susu kuda liar” dari Wakil Presiden, dan pernyataan “mudik berbeda dengan pulang kampung” oleh Presiden. Komunikasi yang salah kaprah ini lalu ditanggapi negatif oleh masyarakat.

“Potensi kegagalan suatu kebijakan publik sudah terjadi di awal ketika komunikasi seperti ini bukan hanya tidak baik atau buruk tetapi bahkan salah kaprah sehingga kebijakan tidak efektif. Hasil dari kebijakan tersebut terlihat pada saat ini dimana terjadi kebingungan publik di tengah simpang siur kebijakan yang tidak konsisten,” papar Didik.

Didik menekankan, Presiden harus berhati-hati dan bertanggung jawab terhadap pelonggaran PSBB. Berkaca dari sejarah Pandemi Influenza di Indonesia satu abad lalu, Didik mengatakan bahwa korban jiwanya sangat besar sampai kisaran 20 persen dari penduduk meninggal.

“Jika presiden dan jajaran pemerintahannya tidak berhati-hati, maka kejadian pandemi ini bukan tidak mungkin memakan korban lebih banyak lagi dari yang sekarang sudah berkembang lebih berat dengan kurva yang terus meningkat,” tuturnya.

“Kebijakan PSBB sudah sejak awal sangat setengah hati dan hasilnya sangat jauh dari sukses. Data hasil PSBB dan kebijakan pandemi Covid-19 di Indonesia paling tidak sukses atau bahkan buruk dibandingkan dengan tingkat kesusesan negara-negara tetangga di ASEAN,” imbuh Didik.

Didik memperingatkan, pelonggaran PSBB yang tidak berhati-hati tanpa pertimbangan data yang cermat sama saja dengan masuk ke dalam jurang kebijakan “Herd Immunity”.  Artinya, yang kuat sukses sehat, yang lemah tewas.

“Ini bisa dianggap sebagai kebijakan pemerintah menjerumuskan rakyatnya ke jurang kematian yang besar jumlahnya,” tegasnya. (*)
Powered by Blogger.